Benarkah ini cinta ?
Benarkah ini yang bernama cinta ?
Aku masih merasa
sendu ketika menatap matamu, ketika menyentuh rambutmu, ketika merangkul
bahumu. Rasanya masih aneh ketika aku akhirnya bisa bersikap begitu biasa
padamu. Aku bisa begitu mudahnya menyentuh rambutmu tanpa takut apapun lagi.
Benarkah apa yang
dulu kualami adalah cinta? Benarkah apa yang dulu kuperjuangkan adalah cinta?
Benarkah apa yang dulu selalu kurasakan adalah cinta? Cinta yang begitu
membebaskan.
Bukankah memang
seharusnya cinta itu membebaskan? Begitu bebasnya hingga rasanya tidak ada lagi
batas antara kebas dan bebas. Aku melakukannya ketika masih merasakan itu
padamu, bukan? Aku membebaskanmu. Aku tidak mengikatmu dan aku tidak merasa
terikat padamu. Hanya saja, sayangnya, aku yang mengikatkan diri padamu. Hingga
akhirnya aku yang jatuh sendiri karena berharap bisa mengikat bayanganmu.
Rasa itu lucu. Aku
menuliskan namamu di kaca jendela yang ada di dekatku. Membuat uapnya dengan
napasku sendiri. Kemudian menuliskan namamu di sana. Seolah-olah dengan itu aku
bisa melihatmu. Seolah-olah dengan menuliskan namamu kau bisa berada di
dekatku. Bukankah itu tolol?
Aku ingat menuliskan
namamu di hampir setiap kertas yang ada di hadapanku. Aku ingat kelas-kelas
membosankan yang kulalui dengan membuat puisi tentangmu. Aku ingat malam-malam
penuh mimpi yang kulalui dengan memimpikanmu. Aku bahkan ingat setiap hari
hujan yang kulewati dengan menyentuh butir-butirnya dan merasa aku menyentuhmu.
Aku tersenyum sambil
mengenang segala hal yang pernah kulakukan karena dirimu. Senyum simpul itu tiba-tiba
hadir di ujung bibirku. Aku menamainya penerimaan.
Penerimaan pada
segala apa yang telah kulalui. Rasanya aku bisa merasakannya di setiap tetes
darah yang mengalir dalam tubuhku dan di setiap detak yang terasa di jantungku.
Denyut itu begitu kuat, memaksa untuk segera disampaikan. Ya, aku mencintaimu.
Dengan cinta yang
ternyata begitu sederhana sekaligus begitu rumit. Butuh kerumitan yang luar
biasa agar aku sadar bahwa ternyata cinta ini sederhana.
Aku tersenyum setiap
kali mendengar namamu disebut. Aku tersenyum setiap kali melihat namamu
melintas di berandaku. Aku tersenyum setiap kali mengingat dirimu dalam
bayangan yang utuh. Dirimu dengan senyum dalam bayanganku.
Aku mencintaimu
dengan cinta yang mungkin banyak orang tahu tapi tak pernah bisa melakukannya.
Aku mencintaimu dengan cinta yang mungkin banyak orang miliki tapi tak pernah
bisa membaginya. Aku mencintaimu dengan cinta yang mungkin banyak orang rasakan
tapi tak pernah bisa mengungkapnya.
Aku tidak akan
munafik dengan mengatakan bahwa dirimu adalah masa lalu. Tapi, kau memang masa
lalu yang begitu berharga. Kau adalah cinta nyata yang pertama kurasakan begitu
nyata di hidupku. Cinta nyata yang tak pernah menuntut begitu banyak tuntutan
darimu. Cinta nyata yang ternyata terasa begitu murni –justru setelah
kepergianmu yang tidak pernah bisa kucegah.
Aku merasakannya –di
tiap detik waktu yang telah berlalu. Dan aku masih akan mencintaimu dengan cara
yang sama. Hanya saja, tidak dalam wujud yang sama. Ini akan berbeda. Sangat
berbeda. Karena aku tidak akan pernah menuntut waktumu –atau waktuku. Aku hanya
akan mencintaimu.
untuk dia yang mungkin benar-benar pernah ada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar