Sabtu, 26 Mei 2012

Esok

Esok,
mungkin aku tidak akan lagi memandangimu sambil duduk di kusen jendela

Esok,
mungkin aku tidak akan berlarian seperti anak kecil setiap melihat motormu terparkir sembarangan

Esok,
mungkin aku tidak lagi tersenyum lebar setiap melihat siluetmu meski dari kejauhan

Mungkin aku tidak bisa lagi tersenyum karenamu. Benar bila rasa-rasanya aku jatuh cinta padamu. Aku kembali seperti anak-anak ababil yang baru kali pertama jatuh cinta -sampai sakit rasanya. Berguling-guling di rumput dan tertawa-tawa senang meski hanya melihat sejumput rambut yang menyerupai rambutmu. Bukankah tidak adil rasanya jika hanya aku yang jatuh cinta ?

Selasa, 22 Mei 2012

Memilih



Memilih

Detik jam yang terdengar dari jam dinding di kamarku adalah satu-satunya suara yang muncul dalam kamarku. Selebihnya senyap. Kamarku juga gelap. Aku sengaja tidak menyalakan lampu. Kadang aku butuh suasana seperti ini. Ketika tidak ada suara-suara yang mengganggu dan gelap yang sepi.
Inilah waktu-waktu yang tepat untuk ‘berpikir’. Itulah istilahku dalam hal ini –merenungi sesuatu. Memikirkan hal-hal yang mengganggu dan benar-benar membutuhkan konsentrasi untuk berpikir.
Ketika kali pertama melihatnya minggu lalu, aku langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya. Dan sebenarnya sorot itu sangat mengganggu. Aku belum pernah melihatnya memandangku dengan sorot demikian terluka. Seketika itu juga aku tahu bahwa dia ‘tahu’.
Rasa menyesal tiba-tiba menyelusup di hatiku. Tiba-tiba aku merasa bersalah dengan melakukan hal itu padanya. Ingin rasanya mengubah keadaan seperti dulu kala. Ketika masa-masa indah itu begitu merajai hari-hari kami –tiga tahun yang lalu.
Tiga tahun yang lalu Alvin datang ke rumahku. Membawa seikat bunga mawar putih yang cantik sekali, tapi sayangnya aku tidak suka bunga. Tetapi anehnya, dia juga membawa sebuah buku yang masih bersampul plastik di tangannya yang lain.
“Ran, aku pengen kamu jadi pacarku. Kalo kamu mau terima aku, kamu pilih novel ini. Tapi kalo kamu nggak mau terima aku, kamu ambil mawar ini.” Alvin mengatakan semua itu dengan lugas.

Senin, 21 Mei 2012

Benarkah Ini Cinta?

Benarkah ini cinta ? Benarkah ini yang bernama cinta ?

Aku masih merasa sendu ketika menatap matamu, ketika menyentuh rambutmu, ketika merangkul bahumu. Rasanya masih aneh ketika aku akhirnya bisa bersikap begitu biasa padamu. Aku bisa begitu mudahnya menyentuh rambutmu tanpa takut apapun lagi.

Benarkah apa yang dulu kualami adalah cinta? Benarkah apa yang dulu kuperjuangkan adalah cinta? Benarkah apa yang dulu selalu kurasakan adalah cinta? Cinta yang begitu membebaskan.

Bukankah memang seharusnya cinta itu membebaskan? Begitu bebasnya hingga rasanya tidak ada lagi batas antara kebas dan bebas. Aku melakukannya ketika masih merasakan itu padamu, bukan? Aku membebaskanmu. Aku tidak mengikatmu dan aku tidak merasa terikat padamu. Hanya saja, sayangnya, aku yang mengikatkan diri padamu. Hingga akhirnya aku yang jatuh sendiri karena berharap bisa mengikat bayanganmu.

Selasa, 15 Mei 2012

Cinta

Cinta




Lama aku tak bercengkrama denganmu, cinta
Kali ini aku ingin menemuimu, bicara empat mata denganmu

Aku melihat langit malam ini, juga malam-malam lalu
Tapi aku tidak menemukanmu di sana
Aku hanya menemukan kegelapan, kesunyian

Cinta..
Lama aku tidak mendengar kabar darimu
Bagaimana kabarmu?

Berapa kali aku dengan jahatnya menepismu?
ah, maafkan aku cinta

Aku sempat mendengarmu berbisik lirih di telingaku
Katamu, "Aku datang. Sambutlah aku."
Tapi maaf, aku tidak menghiraukanmu

Lalu kau datang lagi sambil tersenyum kepadaku
Katamu, "Halo. Ini aku."
Tapi lagi-lagi maaf, aku berpaling darimu

Berapa kali aku dengan teganya meninggalkanmu?
ah, maafkan aku lagi cinta

Sekarang aku ingin melihatmu cinta
Munculkanlah setitik bintang lagi di langitku
Agar aku tidak perlu memicingkan mata mencarimu di langit gelap

Aku ingin mendengarmu berbisik di telingaku cinta
Kali ini aku pasti akan mendengarkanmu
Ayo, cinta, datanglah

Aku rindu padamu, cinta
Rindu sampai rasanya aku rela mati untuk bertemu denganmu

ah, aku galau!

Kata itu melekat padaku sejak lama
Tidak pernah kubiarkan dia pergi

Tapi sekarang aku ingin dia pergi
Aku ingin kau yang menggantikannya, cinta
Datanglah...

Cinta..
Ajarkan aku bahasamu
Ajarkan aku mendengar bisikan lirihmu
Ajarkan aku melihat senyummu
Ajarkan aku membaca isyaratmu

Cinta, aku rindu
Rindu sampai ke setiap sendi di tubuhku

Cinta..
Aku ingin bertemu denganmu lagi


04012012

Elegi Senja di Pantai Zakat




Langit..
Aku menemukan pesaingmu yang seimbang

Dia tersenyum menyambutku, dengan penuh ketenangan
Semburat merahnya yang begitu indah
Embusan anginnya yang semilir
Debur ombaknya yang menenangkan

Aku mendengar deburnya dengan begitu jelas
Dan aku ingin melebur
Menjadi satu dengan denting kedamaiannya

Langit..
Senja itu aku berdiri diam
Tersenyum memandangi pesaingmu yang sama indahnya

Senja itu aku menantangmu
Ah, bukan kamu
Aku menantang diriku sendiri
Untuk menunggumu seperti lepas pantai yang rela menunggu matahari kembali ke peraduannya

Aku akan menunggu
Hingga senja itu sama indahnya seperti senja yang akan kulalui bersamamu

Aku ingin membawamu kembali
Kembali menemui senja indah yang pernah kutinggalkan di sini
Bercumbu dengan debur ombak yang menggelitik telapak kaki

Di senja yang begitu indah itu,
Aku teringat padamu
Dan mungkin di senja-senja berikutnya di pantai-pantai berikutnya,
Aku akan teringat padamu


_Elegi Senja di Pantai Zakat_
Bengkulu 03052012
18.00 WIB