Memilih
Detik jam yang terdengar dari jam dinding di kamarku
adalah satu-satunya suara yang muncul dalam kamarku. Selebihnya senyap. Kamarku
juga gelap. Aku sengaja tidak menyalakan lampu. Kadang aku butuh suasana
seperti ini. Ketika tidak ada suara-suara yang mengganggu dan gelap yang sepi.
Inilah waktu-waktu yang tepat untuk ‘berpikir’. Itulah
istilahku dalam hal ini –merenungi sesuatu. Memikirkan hal-hal yang mengganggu
dan benar-benar membutuhkan konsentrasi untuk berpikir.
Ketika kali pertama melihatnya minggu lalu, aku
langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang berbeda dari sorot
matanya. Dan sebenarnya sorot itu sangat mengganggu. Aku belum pernah
melihatnya memandangku dengan sorot demikian terluka. Seketika itu juga aku
tahu bahwa dia ‘tahu’.
Rasa menyesal tiba-tiba menyelusup di hatiku. Tiba-tiba
aku merasa bersalah dengan melakukan hal itu padanya. Ingin rasanya mengubah
keadaan seperti dulu kala. Ketika masa-masa indah itu begitu merajai hari-hari
kami –tiga tahun yang lalu.
Tiga tahun yang lalu Alvin datang ke rumahku. Membawa
seikat bunga mawar putih yang cantik sekali, tapi sayangnya aku tidak suka
bunga. Tetapi anehnya, dia juga membawa sebuah buku yang masih bersampul
plastik di tangannya yang lain.
“Ran, aku pengen kamu jadi pacarku. Kalo kamu mau
terima aku, kamu pilih novel ini. Tapi kalo kamu nggak mau terima aku, kamu
ambil mawar ini.” Alvin mengatakan semua itu dengan lugas.
Jauh setelah itu aku baru tahu maksudnya saat itu. Dia sengaja membawa novel dan dia yakin aku akan memilih novel, karena memang aku sangat suka membaca novel. Dia tahu bahwa aku tidak suka bunga –sebenarnya suka, hanya saja tidak terlalu suka.
Bulan-bulan pertama hubungan kami, rasanya sangat
menyenangkan. Karena memang orang tuaku sudah mengenalnya sejak kecil, hubungan
kami jelas mendapat restu dari kedua orang tua kami. Dia adalah temanku sejak
kecil –tetanggaku yang beda empat rumah dari rumahku. Orang tuaku sudah
mengenalnya seperti mengenalku sendiri.
Hingga aku bertemu dengan seseorang saat sedang
menghadiri sebuah seminar di luar kampusku. Namanya Ryan. Usianya lebih tua
setahun dariku. Dia adalah salah seorang panitia dari seminar itu. Beberapa kali
kami sempat bertukar senyum. Aku suka sekali melihatnya tersenyum. Seluruh
wajahnya seolah ikut tersenyum setiap kali dia tersenyum.
Perkenalan kami sebenarnya tidak disengaja. Aku menghadiri
seminar itu bersama salah seorang teman, Ayun. Ponselku tertinggal di dalam
ruang seminar, di kursi depan tempatku duduk tadi. Sialnya, aku baru sadar
setelah sudah sampai di gerbang kompleks rumahku. Kami berdua lantas kembali ke
tempat seminar.
Panitia pertama yang kutemui adalah Ryan. Aku langsung
menanyakan perihal ponselku padanya. Dia yang membantuku mencari ponselku, yang
ternyata sudah diamankan oleh salah seorang panitia. Kemudian kami saling
bertukar nama. Hanya itu.
Tiga minggu kemudian, secara kebetulan yang sangat
istimewa, kami bertemu di toko buku. Seperti film-film, tangan kami meraih
sebuah buku yang sama. Lalu kami saling pandang. Aku menemukan sesuatu dalam
matanya. Kemudian kami sama-sama terbahak.
Dari pertemuan-pertemuan kecil kami, kemudian
berlanjut pada pertemuan-pertemuan intens yang makin lama makin kerap. Hampir lima
bulan sejak pertemuan pertama kami, Ryan menyatakan perasaannya padaku. Aku tertegun
ketika dia menyodorkan sebuah kalung di hadapanku. Aku terpaku menatap kalung
itu.
Salahkukah ketika aku tidak mengatakan padanya bahwa
aku sudah punya kekasih? Hubungan kami pun sudah menginjak tahun kedua. Tapi,
rasanya aku juga tidak bisa menolaknya. Maka, akupun menerimanya begitu saja.
Dua bulan kemudian, aku mengatakan kejujuran itu
padanya. “Ryan, aku sebenernya udah punya pacar. Kami udah dua tahun jadian dan
keluarga kami udah saling mengenal.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari
mulutku setelah tiga bulan hubungan kami berjalan.
Tetapi, reaksinya sungguh di luar perkiraanku. Dengan
santainya dia berkata, “Aku udah tahu kok.” Kemudian dengan mudahnya kami
melanjutkan hubungan kami. Hubungan yang jelas-jelas merupakan sebuah
perselingkuhan!
Hingga hari itu datang. Hari yang paling kutakutkan.
Alvin datang seminggu yang lalu sambil membawa ponsel Ryan. Ponsel itu
dititipkan padaku dua hari yang lalu. Tapi ternyata aku meninggalkannya di
rumah Alvin hari sebelumnya.
Aku tertegun. Dia langsung memintaku memilih.
Dalam kesunyian dan kegelapan kamar ini, aku
telentang di atas ranjang. Haruskah aku memilih? Bukankah cinta itu
membebaskan? Dengan tiba-tiba aku melompat turun dari ranjang, menyalakan
lampu, dan keluar dari kamar.
Aku berlari ke rumah Alvin, mengetuk pintu
keras-keras –menggedor lebih tepatnya. Dinar, adik Alvin, yang membuka pintu. Tanpa
sempat mengatakan apa-apa, aku langsung berlari ke kamar Alvin. Dia sedang
mendengarkan musik sambil membelakangi pintu.
Langsung kupeluk lehernya
dia dari belakang. “Cinta itu membebaskan. Aku tahu kesalahan ada padaku. Mungkin
kemarin aku cuma bosen dan Ryan ada di saat yang tepat. Aku minta maaf udah
ngecewain kamu. Tapi, aku tahu. Kamu membebaskan aku memilih. Dan aku memilih
kamu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar