Selasa, 22 Mei 2012

Memilih



Memilih

Detik jam yang terdengar dari jam dinding di kamarku adalah satu-satunya suara yang muncul dalam kamarku. Selebihnya senyap. Kamarku juga gelap. Aku sengaja tidak menyalakan lampu. Kadang aku butuh suasana seperti ini. Ketika tidak ada suara-suara yang mengganggu dan gelap yang sepi.
Inilah waktu-waktu yang tepat untuk ‘berpikir’. Itulah istilahku dalam hal ini –merenungi sesuatu. Memikirkan hal-hal yang mengganggu dan benar-benar membutuhkan konsentrasi untuk berpikir.
Ketika kali pertama melihatnya minggu lalu, aku langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya. Dan sebenarnya sorot itu sangat mengganggu. Aku belum pernah melihatnya memandangku dengan sorot demikian terluka. Seketika itu juga aku tahu bahwa dia ‘tahu’.
Rasa menyesal tiba-tiba menyelusup di hatiku. Tiba-tiba aku merasa bersalah dengan melakukan hal itu padanya. Ingin rasanya mengubah keadaan seperti dulu kala. Ketika masa-masa indah itu begitu merajai hari-hari kami –tiga tahun yang lalu.
Tiga tahun yang lalu Alvin datang ke rumahku. Membawa seikat bunga mawar putih yang cantik sekali, tapi sayangnya aku tidak suka bunga. Tetapi anehnya, dia juga membawa sebuah buku yang masih bersampul plastik di tangannya yang lain.
“Ran, aku pengen kamu jadi pacarku. Kalo kamu mau terima aku, kamu pilih novel ini. Tapi kalo kamu nggak mau terima aku, kamu ambil mawar ini.” Alvin mengatakan semua itu dengan lugas.

Jauh setelah itu aku baru tahu maksudnya saat itu. Dia sengaja membawa novel dan dia yakin aku akan memilih novel, karena memang aku sangat suka membaca novel. Dia tahu bahwa aku tidak suka bunga –sebenarnya suka, hanya saja tidak terlalu suka.
Bulan-bulan pertama hubungan kami, rasanya sangat menyenangkan. Karena memang orang tuaku sudah mengenalnya sejak kecil, hubungan kami jelas mendapat restu dari kedua orang tua kami. Dia adalah temanku sejak kecil –tetanggaku yang beda empat rumah dari rumahku. Orang tuaku sudah mengenalnya seperti mengenalku sendiri.
Hingga aku bertemu dengan seseorang saat sedang menghadiri sebuah seminar di luar kampusku. Namanya Ryan. Usianya lebih tua setahun dariku. Dia adalah salah seorang panitia dari seminar itu. Beberapa kali kami sempat bertukar senyum. Aku suka sekali melihatnya tersenyum. Seluruh wajahnya seolah ikut tersenyum setiap kali dia tersenyum.
Perkenalan kami sebenarnya tidak disengaja. Aku menghadiri seminar itu bersama salah seorang teman, Ayun. Ponselku tertinggal di dalam ruang seminar, di kursi depan tempatku duduk tadi. Sialnya, aku baru sadar setelah sudah sampai di gerbang kompleks rumahku. Kami berdua lantas kembali ke tempat seminar.
Panitia pertama yang kutemui adalah Ryan. Aku langsung menanyakan perihal ponselku padanya. Dia yang membantuku mencari ponselku, yang ternyata sudah diamankan oleh salah seorang panitia. Kemudian kami saling bertukar nama. Hanya itu.
Tiga minggu kemudian, secara kebetulan yang sangat istimewa, kami bertemu di toko buku. Seperti film-film, tangan kami meraih sebuah buku yang sama. Lalu kami saling pandang. Aku menemukan sesuatu dalam matanya. Kemudian kami sama-sama terbahak.
Dari pertemuan-pertemuan kecil kami, kemudian berlanjut pada pertemuan-pertemuan intens yang makin lama makin kerap. Hampir lima bulan sejak pertemuan pertama kami, Ryan menyatakan perasaannya padaku. Aku tertegun ketika dia menyodorkan sebuah kalung di hadapanku. Aku terpaku menatap kalung itu.
Salahkukah ketika aku tidak mengatakan padanya bahwa aku sudah punya kekasih? Hubungan kami pun sudah menginjak tahun kedua. Tapi, rasanya aku juga tidak bisa menolaknya. Maka, akupun menerimanya begitu saja.
Dua bulan kemudian, aku mengatakan kejujuran itu padanya. “Ryan, aku sebenernya udah punya pacar. Kami udah dua tahun jadian dan keluarga kami udah saling mengenal.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku setelah tiga bulan hubungan kami berjalan.
Tetapi, reaksinya sungguh di luar perkiraanku. Dengan santainya dia berkata, “Aku udah tahu kok.” Kemudian dengan mudahnya kami melanjutkan hubungan kami. Hubungan yang jelas-jelas merupakan sebuah perselingkuhan!
Hingga hari itu datang. Hari yang paling kutakutkan. Alvin datang seminggu yang lalu sambil membawa ponsel Ryan. Ponsel itu dititipkan padaku dua hari yang lalu. Tapi ternyata aku meninggalkannya di rumah Alvin hari sebelumnya.
Aku tertegun. Dia langsung memintaku memilih.
Dalam kesunyian dan kegelapan kamar ini, aku telentang di atas ranjang. Haruskah aku memilih? Bukankah cinta itu membebaskan? Dengan tiba-tiba aku melompat turun dari ranjang, menyalakan lampu, dan keluar dari kamar.
Aku berlari ke rumah Alvin, mengetuk pintu keras-keras –menggedor lebih tepatnya. Dinar, adik Alvin, yang membuka pintu. Tanpa sempat mengatakan apa-apa, aku langsung berlari ke kamar Alvin. Dia sedang mendengarkan musik sambil membelakangi pintu.
Langsung kupeluk lehernya dia dari belakang. “Cinta itu membebaskan. Aku tahu kesalahan ada padaku. Mungkin kemarin aku cuma bosen dan Ryan ada di saat yang tepat. Aku minta maaf udah ngecewain kamu. Tapi, aku tahu. Kamu membebaskan aku memilih. Dan aku memilih kamu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar