Senin, 02 Juli 2012

Ingatan

Suatu pagi, aku pernah melihatmu bersinar [efek jatuh cinta]. Melangkah lebar karena terlambat masuk kelas. Tetapi, sebelum masuk kelas, kamu sempat melempar senyum padaku. Aduh! Senyum itu masih kuingat sampai sekarang ternyata.

Suatu siang, aku pernah melihatmu berdiri di depan jendela paling pojok di ruang kelas itu. Entah apa yang kamu pandangi. Semak yang ada di dekatnya atau persawahan yang ada di bawahnya. Dan tanpa sadar aku terus memandangimu. Seolah tidak mendengar obrolan teman-teman di hadapanku. Semuanya hanya numpang lewat.

Suatu sore, aku pernah melihatmu duduk berdua [dengan kekasihmu]. Tiba-tiba aku cemburu. Mengapa bukan aku yang duduk di sampingmu? Coba aku yang duduk di sana. Pasti aku tau apa yang sedang kalian obrolkan hingga kamu tersenyum demikian manis.

Suatu malam, aku pernah memimpikanmu. Berbulan-bulan sesudah aku tidak lagi melihatmu melalui batas
jendela. Aku bermimpi kamu datang menjemputku dan kita makan bersama. Berceloteh riang sambil saling menggoda. Lalu kamu mengantarku pulang. Kita berpisah sambil saling melambaikan tangan.

Berapa malam kemudian aku kembali memimpikanmu. Ketika aku terjaga tengah malam itu juga, sesak ternyata. Semuanya ternyata mimpi. Aduhai, rasanya aku tidak ingin terjaga barusan. Kemudian aku ingin kembali tidur, meneruskan mimpi yang terpotong tadi. Tetapi, kamu tidak muncul lagi. Tugasmu sudah selesa? Mengantarku sampai rumah?

Aku melalui hari-hari sulitku tanpamu. Berusaha untuk perlahan-lahan berdiri setelah terpuruk. Setelah berhari-hari hanya berani memandangimu dari balik punggungmu, aku memberanikan diri menyentuhmu. Menyentuhmu ketika ada jeda tak nampak antara kalian berdua.

Namun, aku hanya berani sebentar menyentuhmu. Kulepas kembali sentuhanku. Sementara kamu sudah menoleh ke arahku. Tetapi, tidak ada senyum itu. Aku hanya melihat sendu di wajahmu. Ke mana perginya senyum yang begitu menawan itu? Aku sebenarnya hanya ingin melihatmu tersenyum padaku. Dan senyum itu muncul. Anehnya, tidak menyentuh matamu.

Lalu tiba-tiba aku jadi merindukanmu lagi. Ah, aku masih sering merindukanmu ternyata.

Aku pikir waktu yang akan menghapus kenanganmu dari memoriku. Aku pikir seiring waktu berjalan aku akan lupa pada perasaan itu. Aku pikir jarak yang akan memisahkan ingatanku tentangmu. Aku pikir semakin jauh jarak kita, semakin jauh ingatanku tentangmu. Tapi, aku salah.

Seiring waktu berjalan, ingatanku tentangmu dan tentang kita semakin kuat. Perasaan itu datang lagi. Dulu, aku pernah berharap bisa memilikimu. Ketika kamu memiliki orang lain, aku mengubah harapanku. Aku hanya berharap akan kebahagiaanmu.

Semakin jauh jarak di antara kita, ingatan tentang perasaan itu semakin dekat. Ketika aku tidak bisa lagi melihatmu setiap hari, aku berpikir bahwa ini mungkin akan menjadi akhir. Karena jarak adalah hal istimewa yang akan menjadikan ingatan itu memudar. Namun, lagi-lagi aku terjebak dalam romansa memori tentang kamu, tentang kita.


teruntuk kekasih yang tak pernah kusentuh
Semarang, 3 Juli 2012
11.13 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar