Aku petualang. Aku senang menjelajah dari satu hati ke hati yang lain. Semenjak aku menemukan diriku berada dalam kondisi untuk tidak senang menetap, aku berperan demikian. Tidak bersedia menetap di satu 'tempat' untuk waktu yang cukup lama.
Aku pernah menurunkan jangkarku di suatu pelabuhan. Setelah sekian lama berlabur, aku memutuskan untuk berlayar kembali. Kemudian aku melihat pelabuhan lain. Namun, aku tak kunjung berlabuh. Bahkan berlayar pun tidak. Aku hanya diam di tepian, berusaha mendekat namun berulang-ulang dihempas ombak dan badai. Lalu aku menyerah.
Akhirnya aku menyerah dan menjatuhkan jangkarku di sana. Enggan untuk melewatkan satu pelabuhan itu. Berdiri di pelabuhan itu aku bisa melihat bahwa orang-orang berlalu-lalang di sana. Dengan beragam kesibukan. Yang satu sibuk menawar ikan hasil tangkapan nelayan sekitar. Ada pasangan yang duduk di bawah pohon sambil menyuapi es krim pada pasangannya. Tapi ada juga pasangan yang duduk bersebelahan namun sibuk dengan telepon genggam mereka sendiri.
Tidak dapat ditawar lagi. Aku ingin melihat diriku sendiri. Apa yang sedang kulakukan dengan berdiri diam di sini sendirian? Aku hanya mengamati. Melihat orang-orang itu melakukan pekerjaan mereka sendiri.
Entah berapa lama aku berdiri diam di sana. Sampai suatu ketika aku sadar akan hal yang telah sia-sia kulakukan dengan berdiri diam di sana. Aku menghabiskan banyak waktu hanya untuk melihat dan mengamati. Tanpa melakukan apa-apa. Bukankah itu hal yang sia-sia?
Kemudian setelah proses menyalahkan diri sendiri yang rasanya begitu panjang, aku memutuskan untuk berlayar kembali. Dan aku hanya singgah di pelabuhan itu.
Tidak berapa lama dari pelayaranku, aku melihat sebuah pelabuhan lagi. Aku tergoda untuk sejenak berhenti di sana. Mungkin, untuk mengisi logistik atau apa saja yang bisa kutemukan di sana. Kembali kuturunkan jangkarku di pelabuhan tak bernama itu.
Aku diam beberapa lama di sana. Awalnya aku berjalan-jalan dan melihat apa yang bisa kutemukan di sana. Sebentar aku tertarik untuk melihat berbagai kerajinan yang dijual di salah satu toko di sana. Sebentar kemudian aku beralih ingin melihat pasar rakyatnya lebih dekat. Tak berapa lama aku bosan.
Ternyata pelabuhan ini tidak semenarik yang aku bayangkan. Aku cepat bosan dan hanya ingin berdiri diam di tengah kekacauan yang ada. Pedagang-pedagang itu menawariku dengan berbagai dagangan mereka. Tapi aku hanya diam dan tidak menghiraukan mereka. Aku bosan.
Seperti kedatanganku, kepergianku pun singkat. Tanpa berniat menoleh lagi, aku mengangkat jangkarku dan mulai berlayar lagi. Kali ini tidak berniat untuk berhenti selama beberapa waktu. Kurasa logistikku cukup. Bahan hiburanku pun sudah kuperhitungkan sedemikian rupa agar tidak ada satu hari pun yang kulalui dalam kesunyian.
Sekarang, setelah beberapa lama aku berlayar, aku melihat sebuah pelabuhan yang begitu gemerlap di depan sana. Aku mematikan mesin kapalku. Tapi hanya itu yang aku lakukan. Hanya memandangi gemerlap kemewahan pelabuhan itu dari tengah-tengah lautan, cukup jauh dari sana. Aku tertarik untuk merapat -hanya tertarik.
Ketika akhirnya gemerlap itu padam di batas sana, aku juga memadamkan lampu kapal. Aku ingin istirahat. Biar saja kapalku berhenti di tengah-tengah ombak yang berayun ini. Biar saja.
Keesokan harinya, sebelum pelabuhan itu mulai gemerlap lagi, aku memutuskan untuk berlayar kembali. Namun tanpa penerangan. Aku ingin kapalku bisa mengikuti sinar bulan yang muncul di malam hari dan menjelang pagi. Kemudian siang harinya, biar saja mengikuti matahari.
Aku lelah
di batas langit
Ambarawa, 1 Juli 2012
10.48 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar