Bermalam-malam kemudian aku kembali duduk termangu menatap pekatnya malam. Ada bulat bulan di angkasa sana. Cahayanya seperti diliputi misteri, dikelilingi keperakan sinarnya. Bintang-bintang muncul seperti kerlingan mata yang sedang berbahagia.
Sering tiba-tiba aku menemukan diriku sendiri termangu di balik jendela sambil menghitung gumpalan rindu yang seolah tidak ingin dipisahkan dari awan di siang yang cerah. Kadang aku menemukan diriku telentang di tanah yang dingin sambil menghitung berapa banyak rindu yang datang bersama bintang di malam hari. Kemudian aku tersenyum lebar karena ternyata aku tidak bisa menghitung rinduku sendiri.
Seiring dengan berjalannya waktu, aku sangsi akan arti merindu. Kapan terakhir kali aku mendengar seseorang menghitung jumlah rindunya padaku? Ah, aku tidak bisa mengingatnya. Kapan terakhir kali aku mendengar seseorang berkata dia merindukanku? Ah, aku juga tidak bisa mengingatnya.
Namun, sebenarnya kapan aku benar-benar merasa rindu akan seseorang? Satu sosok pasti yang sebenarnya benar-benar kurindukan? Aku sendiri sangsi sebenarnya kapan terakhir kalinya aku merindukan seseorang yang nyata, bukan yang sebenarnya aku pikir kurindukan. Dan aku masih tersenyum menyadari kesangsianku.
Juli lalu aku merasa seolah-olah menghabiskan stok rindu yang kupunya. Setiap hari aku mengatakan bahwa aku merindukan seseorang. Bahwa aku sedang merindu pada sosok yang begitu nyata ada dalam hidupku. Namun, benarkah ada sosok nyata itu dalam hidupku?
Entah kapan tepatnya. Aku telah menciptakan sosok maya yang ingin selalu kurindukan. Sosok yang sampai sekarang tak pernah kutahu siapa namanya, bagaimana rupanya, bahkan seperti apa dia. Yang aku tahu bahwa dia adalah tokoh rekaan yang tidak terbayangkan ada dalam kehidupan nyataku. Aku hanya ingin merindunya.
Bukankah merindu itu begitu menyakitkan sekaligus membahagiakan?
untuk sosok yang ingin kurindu
Ambarawa, 12 Agustus 2012
19.48 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar