Ambisi kubilang?
Ya, itu ambisi. Ambisi yang begitu kuat.
Aku pernah mencintaimu. Pernah begitu mencintaimu
hingga rasanya aku sangat bahagia.
Kemudian aku mencintaimu lagi. Sampai rasanya
sangat menyiksa, mungkin menyakitkan.
Lalu aku mencintaimu lagi. Rasanya tidak pernah
sama seperti saat pertama.
Dan aku mencintaimu lagi. Hingga tak tahu lagi
seperti apa rasanya.
Berikutnya aku mencintaimu lagi. Dan rasanya
menenangkan.
Aku ingin menyentuhmu. Menyentuhmu seperti yang
selalu aku inginkan.
Aku ingin menyentuh bibirmu. Bibir yang di sanalah
pernah tersungging senyum untukku suatu waktu.
Aku ingin menyentuh tanganmu. Tangan yang di
sanalah pernah kusentuh dan kucium.
Aku ingin menyentuh matamu. Mata yang di sanalah
pernah tergores luka dan aku ingin membayangkan sakitnya.
Malam ini kuhabiskan banyak waktu untuk diam.
Memandang kosong udara untuk tersenyum.
Kemudian aku termenung. Tiba-tiba tertikam haru
yang luar biasa.
Secepat datangnya, secepat itulah perginya. Aku
ingin menangis.
Malam saksi yang tak pernah tidur. Dia tahu
seberapa banyak aku memikirkanmu setiap harinya.
Tak peduli betapa pun sakitnya, aku masih
memikirkanmu. Meski rasanya lelah.
Yang aku ingat berikutnya adalah betapa bahagianya.
Untuk ratusan malam yang kugunakan untuk mengingatmu.
Aku mengingat senyummu 32 bulan yang lalu. Senyum
yang sampai sekarang aku masih belum menemukan saingannya.
Kukibaskan kenangan-kenangan pahit yang menggores.
Aku ingin menyisakan kenangan-kenangan indah itu.
Betapa pun aku mencoba mengulangnya kembali, tetap
saja itu semua kenangan. Dan aku rela menukar 32 bulan itu dengan senyummu.
Bukankah segala hal yang berlalu hanya akan menjadi
kenangan? Itu semua memang kenangan.
Ada transaksi cinta yang terjadi malam ini.
Penjualnya adalah aku, dan pembelinya adalah aku.
Seperti malam yang pernah kuikrarkan padamu, aku
tak pernah beranjak. Tidak pernah benar-benar beranjak.
Meski hati-hati yang lain kusinggahi, tak ada yang
sepertimu. Bahkan mendekati pun tidak.
Telah kutitipkan hatiku padamu. Belum kuberniat
untuk mengambilnya kembali.
Kamuflase itu yang kuciptakan sendiri. Meski sadar
itu hanya rekaan belaka.
Aku berpura-pura akan mengambil kembali hati yang
telah kutitipkan. Namun, akhirnya cukup kusentuh saja.
Tidak pernah benar-benar kurasa luka itu. Yang
ingin kurasa hanya bahagia itu.
Setitik rindu muncul malam ini. Esok pagi pasti
menjelma menjadi lautan rindu.
Rindu itu menjadi candu. Candu yang mungkin takkan
kulepas.
Waktu tidak pernah berhenti bergerak. Tapi aku
seperti berhenti bergerak untuk menjauhimu.
Fisikkulah yang menjauh darimu, hatiku tidak.
Seperti itulah yang kuinginkan.
Biar getar rindu itu menjelma menjadi gaung. Gaung
yang tak berhenti.
Denting rindu itu akan menjadi simphoni tidur yang
menenangkan. Lagu nina bobo yang mengalun indah.
Sepertinya
Aku jatuh cinta [lagi] padamu
Entah,
Untuk yang ke berapa kalinya
untuk 32 bulan yang tak kunjung padam
Ambarawa, 22 Agustus 2012
00.05
WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar