Aku pernah berjalan tegak meninggalkan masa lalu, meski pada akhirnya harus mengakui bahwa aku masih tidak bersedia meninggalkan masa itu. Aku menghela napas berat ketika akhirnya harus mengaku bahwa aku masih tidak ingin beranjak dari masa lalu.
35 bulan bukanlah waktu yang singkat, meski bukan waktu yang panjang. Aku menunggu. Rasanya benar apa kata orang, menunggu adalah hal yang sangat membosankan. Aku pernah bosan, pernah lari. Tapi aku tetap kembali. Dan aku tidak menyesalinya.
Aku menghitung mundur dari angka 35. Yang kudapatkan hanya sebuah penantian. Tanpa jawaban. Lalu muncul pertanyaan. Dan lagi-lagi, tidak ada jawabannya.
Mengapa? Mengapa aku tidak pernah bersedia beranjak meninggalkan masa lalu? Mengapa aku tak juga lelah berdiri di bayang-bayang masa yang telah berlalu?
Sering aku berpikir di malam-malam panjang yang kulalui sendiri. Apa sulitnya berbalik dari masa lalu dan melanjutkan hidup? Apa sulitnya tersenyum pada masa lalu dan meninggalkannya sebagai kenangan?
Aku pernah bersedia terluka. Membuat diriku terluka, lebih tepatnya. Berkeras untuk tetap memandangi punggungmu meski garis lurus pun telah tak nampak. Berkeras untuk tetap berdiri di tempatmu meninggalkanku meski kau sekali pun tak pernah kembali.
Kau pernah memberikanku sesuatu yang tidak bisa kudapatkan meski dengan menyesalinya. Melalui dirimu, aku belajar rasanya menunggu. Melalui dirimu, aku belajar rasanya berbagi. Melalui dirimu, aku belajar memahami. Melalui dirimu, aku belajar mengerti. Melalui dirimu, aku belajar berkorban. Melalui dirimu, aku belajar mencintai.
Aku pernah berkeras bahwa kau akan segera berbalik padaku dan menyadari ketulusanku. Tapi, bukankah itu kejam? Memandangmu sebagai seseorang yang kuinginkan adalah kesalahan. Karena aku adalah aku dan kau adalah kau. Kita tidak pernah menjadi "kita".
Ada malam-malam penuh rindu yang kulalui seorang diri. Ada malam-malam panjang tempat aku bersamamu, dalam mimpi. Aku tak jua letih bermimpi tentangmu.
Meski lelah berjalan terseret-seret berusaha mengumpulkan puing-puing kenangan itu, aku pernah berusaha tidak merasakannya. Aku berusaha mengabaikan jenuhku tentangmu. Aku pikir kenanganmulah yang akan membuatku tetap bertahan.
Aku tidak membuangmu. Bahkan mungkin, kamu tidak membuangku. Tidak ada siapa yang membuang siapa. Hanya saja waktu memang terus berjalan. Waktu tidak bisa berhenti seperti yang pernah kuinginkan -atau barangkali seperti yang kauingingkan.
Namanya masih masa lalu, bukan, meski aku pernah merengek berharap kau kembali? Namanya masih masa lalu, bukan, meski aku berkata rindu ribuan kali? Namanya masih masa lalu, bukan, meski aku bermimpi tentangmu setiap malam? Namanya masih masa lalu, bukan, meski aku berkeras yakin kau akan menoleh padaku? Namanya masih masa lalu, bukan, meski aku menangis setiap malam?
Kita memiliki masa. Masa itu adalah masa lalu. Dan aku tidak pernah menyesalinya.
untuk 35 bulan yang indah
29112012
14.27 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar