Sabtu, 26 Mei 2012

Esok

Esok,
mungkin aku tidak akan lagi memandangimu sambil duduk di kusen jendela

Esok,
mungkin aku tidak akan berlarian seperti anak kecil setiap melihat motormu terparkir sembarangan

Esok,
mungkin aku tidak lagi tersenyum lebar setiap melihat siluetmu meski dari kejauhan

Mungkin aku tidak bisa lagi tersenyum karenamu. Benar bila rasa-rasanya aku jatuh cinta padamu. Aku kembali seperti anak-anak ababil yang baru kali pertama jatuh cinta -sampai sakit rasanya. Berguling-guling di rumput dan tertawa-tawa senang meski hanya melihat sejumput rambut yang menyerupai rambutmu. Bukankah tidak adil rasanya jika hanya aku yang jatuh cinta ?



Ya Tuhan
Rasanya sakit sampai ke tulang-tulangku!
Bolehkah aku berhenti hanya sanggup memandangimu dari jauh? Hanya menuliskan namamu di kaca tanpa tahu sebenarnya mengapa aku menuliskannya. Sebenarnya aku tahu jawabannya : karena aku ingin!

Tiba-tiba saja aku ingin menuliskan namamu di catatanku, di lembar kertas di hadapanku, di kaca jendela, di awan, dan di dalam hatiku. Tentu saja aku menuliskan namamu di sana. Dan sialnya, aku tidak bisa menghapusnya -seperti sebuah tato. Saat membuat tato itu, biasanya ada kesadaran luar biasa yang membuatmu merasa ingin membuatnya. Dan sesudahnya kau menyesal ketika tato itu sebenarnya tidak sepenuhnya kau inginkan.

Aku mungkin bukan tidak menginginkanmu. Munafik jika aku mengakui sebaliknya, tapi aku yakin aku menginginkanmu. Tapi, tiba-tiba kesadaran itu menamparku keras-keras sampai rasanya kebas, tidak lagi sekadar sakit.

Tidak perlu seorang aku untuk menggenapi ganjilmu. Tidak perlu seorang aku untuk memenuhi kosongmu. Karena ternyata aku bukan orang yang kauharapkan. Dan [lagi-lagi] tiba-tiba rasanya menjadi jauh lebih sakit dibanding sebelumnya.

Kurang bodohkah aku selama ini? Atau memang aku tercatat untuk menjadi lebih bodoh setiap waktunya sebelum benar-benar dipintarkan?

Ah, aku marah!
Aku menyukaimu, menggilaimu, mencintaimu -atau apapun istilah lainnya. Yang jelas, mungkin tidak bisa begini lagi.

Aku tidak akan berani menatapmu lagi, bahkan tidak pada punggungmu.

Mungkin aku hanya akan menunduk saat sedikit saja siluetmu tertangkap mata.

Sial lagi, aku benar-benar tidak bisa menghapus bayanganmu meski ketika aku menutup rapat mataku. Aku tidak bisa menghapus namamu yang tercetak tebal di hatiku. Dan [lagi] aku tidak bisa menghapus mimpi-mimpi panjang saat aku hanya bisa menatap matamu -sipit.

Hanya Tuhan yang tahu kapan kiranya aku berani menatapmu lagi.


untuk dia yang namanya baru kutulis tapi tidak bisa kuhapus -Langit
Ambarawa, 26052012
22.56 WIB

4 komentar:

  1. Curhatan? atau pure perihal sastra? wkwkwkwk
    by : WPP

    BalasHapus
  2. kapan ya aku bisa nulis puisi lagi..
    apalagi pake bahasa selugas ini..
    hmm...
    butuh kematian yang panjang sepertinya...T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku pengen orangorang bisa paham langsung maksud tulisanku..
      ayog nulis puisi lagii :D

      Hapus