Sabtu, 23 Juni 2012

Elegi Masa Lalu

Malam ini aku melankolis sekali. Ah, ternyata beda tipis dengan mengasihani diri sendiri !

Aku membayangkan jalan mana saja yang telah kuambil sejak dulu hingga sekarang. Lalu memikirkan apa saja yang telah kulalui sejak dulu hingga sekarang. Kemudian akhirnya membentur pada kenyataan bahwa aku hanya mengenali sebagian kecil dari diriku sendiri.

Benarkah aku adalah orang yang begitu ceroboh ? Aku membiarkan diriku sendiri terjebak dalam pagar-pagar yang telah kubuat sendiri. Dan aku menceburkan diri ke dalam kolam yang sengaja kubuat sendiri. Betapa memalukannya !

Aku masih bisa mencium bau air terjun itu seolah-olah itu baru saja terjadi hari ini. Aku masih bisa merasakan nyeri di telapak kaki karena berjalan menanjak tanpa alas kaki seolah-olah baru saja aku melakukannya. Bahkan aku masih ingat ketika memandangi kabut yang turun dari pegunungan itu.

Bukankah rasanya itu semua baru kulalui ?



Ketika itu aku tidak tahu bahwa segalanya bisa berlangsung begitu lama dan begitu menyeramkan. Efeknya adalah segala hal yang terjadi hingga kini. Aku terbiasa denganmu. Dan aku menjadi tidak terbiasa menghadapi orang-orang yang seperti aku.

Aku menyukai segala apa yang ada dalam dirimu dan bagaimana caraku menghadapi dirimu dan diriku sendiri saat masih bersamamu. Aku menyukai sikapmu yang jauh dari apa yang pernah kuharapkan padamu dan aku terbiasa. Ketika semua menjadi begitu membiasakan, aku menjadi bias. Benarkah ini yang sebenarnya aku mau ?

Aku mungkin pernah merasa bahwa segala seolah berhenti ketika aku akhirnya harus mundur. Bahkan aku masih merasa begitu tergoda untuk masuk lagi dalam kehidupanmu. Pertanyaannya adalah, pernahkah aku masuk ke dalam kehidupanmu ?

Aku begitu takut jika suatu saat aku menyadari bahwa ternyata aku hanya bermimpi bahwa aku pernah ada di hatimu. Begitu takut jika suatu hari nanti aku melihat bukti-bukti tak terbantahkan yang menyatakan bahwa aku sebenarnya hanya hidup dalam dongeng buatanku sendiri yang tak nyata. Seolah selama ini aku berjalan dalam tidur dan mengharapkan hal-hal yang tidak pernah terjadi.

Aku pernah menangis -banyak. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menangisimu. Perdengarkan aku lagu-lagu yang bersinggungan tentang kita, maka aku akan menangis. Sodorkan aku kisah yang bersinggungan tentang kita, maka aku akan menangis. Tapi, aku tidak ingat kapan aku menangis karena dirimu. Bahkan, karena diriku sendiri.

Aku ingin menangis. Bahkan di saat-saat menekan penuh dengan ujian, aku ingin menangis. Tapi bukan karena ujian itu aku ingin menangis. Aku ingin menangis ketika melihat bulir-bulir air mata itu keluar dari mata orang-orang yang kusayangi. Aku ingin menangis ketika mendengar sengguk mereka bersamaan dengan bulir itu turun. Tapi, aku berdiri di sana. Di antara mereka. Dan tidak menangis.

Aku hanya menatap miris dan kaku. Rasanya meskipun aku ingin menangis, tapi tidak ada air mata yang ikut keluar. Pertahananku tidak jebol seperti dulu. Aku hanya memandangi mereka, dan keluar karena tidak ingin lagi berada bersama mereka yang kusayangi yang sedang berbagi kesedihan. Sementara aku tidak tahu pada siapa aku harus membagi kebingunganku mengapa aku tidak bisa menangis.

Suatu hari, aku berkeras bahwa aku telah jatuh cinta -dua kali. Tapi, benarkah itu semua adalah cinta ? Aku tidak merasakannya. Tidak merasakannya dalam denyut nadiku. Lalu, apa nama semua perasaan itu ? Aku tidak pernah tahu. Aku membuka kamus, mencari, tapi tidak menemukan apa pun. Aku mencari di setiap search engine yang kutahu. Tapi, tetap aku tidak bisa menemukan apa pun. Kemudian aku menyerah mencari. Aku membiarkan hatiku yang merasakannya.

Ada yang bilang aku bertambah dewasa setiap harinya. Ternyata dewasa itu tidak menyenangkan. Aku seperti memiliki selubung topeng di wajahku. Dulu, aku tidak pernah berpura-pura pada semua orang. Semua orang berhak melihat wajah asliku. Tetapi sekarang ? Aku tidak bermaksud atau menyengaja berpura-pura, hanya saja ternyata itu yang kulakukan.

Aku membunuh karakter diriku sendiri. Kemudian aku membuang jauh-jauh kunci yang pernah kusimpan untuk mereka yang ingin memasuki hidupku. Sekarang aku memegang kunci itu erat-erat dan tidak bersedia menyerahkannya pada siapa pun, bahkan pada mereka yang sudah kuanggap sebagai sahabat sekaligus saudaraku sendiri.

Biarkan aku memeluk diriku sendiri sementara ini. Ternyata jatuh cinta kali ini membuatku kembali pada masa lalu. Masa yang sebenarnya tidak pernah kuizinkan jauh-jauh dariku. Aku hanya menyingkirkannya ke tepi. Ketika segala hal yang bisa kulakukan untuk menyingkirkannya telah habis, maka aku hanya bisa pasrah melihat masa lalu itu kembali ke tempatnya perlahan-lahan.

Semua begitu singkat. Tapi aku tidak ingin membiarkan masa lalu itu lenyap begitu saja. Aku akan membiarkan dia berkembang di sana -di tempat aku tidak bisa menyentuhnya kembali.


Elegi Masa Lalu
Semarang, 24 Juni 2012
23.28 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar